Hai semuanya, apa kabar? Kali ini kita akan coba backup lagi menggunakan Nakivo. Selain backup dari sistem virtualisasi, Nakivo juga mendukung backup dari mesin atau komputer fisik. Pada pengujian kali ini saya sudah siapkan satu server Ubuntu yang disimulasikan sebagai server fisik.
Menambahkan Server Fisik Baru
Untuk menambahkan server fisik agar dapat di-backup Nakivo, buka menu Settings> Inventory> + (sama seperti sebelumnya). Lalu pilih menu Physical.
Atur detail dari server fisik yang akan ditambahkan pada halaman Options.

Gambar di bawah menampilkan server Ubuntu (marked as physical server) sudah berhasil ditambahkan ke inventory.

Membuat Backup Job
Untuk menambahkan backup job baru, (sama seperti sebelumnya) buka menu Data Protection> Jobs> + . Ada dua opsi yang tersedia (untuk physical machine) yaitu Backup (regular) & File Level Backup (Granular/Individual Files). Kita pilih opsi pertama saja untuk pengujian kali ini.

Untuk membuat backup job dari server fisik, secara umum tahapannya sama saja. Pililh server (dari inventory), set jadwal/on demand run, dan konfigurasi lain.

Gambar di bawah ini menampilkan proses backup yang sedang berjalan.

Sempat ada warning juga yang menyatakan bahwa Nakivo mendeteksi “unsupporteed volumes” pada server yang di-backup.

Kemungkinannya (bisa jadi) karena Nakivo menggunakan Logical Volume Manager (LVM) untuk membuat snapshot di Linux. Jika Ubuntu yang digunakan menggunakan partisi standar (ext4 biasa tanpa LVM), Nakivo terpaksa membaca disk secara langsung.
Peringatan konsistensi data (recovery point consistency) biasanya kritis untuk server produksi yang sibuk menulis data ke database. Karena ini adalah lingkungan lab dan VM Ubuntu yang digunakan sedang santai (idle), data di dalam backup tersebut most likely aman dan tidak korup.
Gambar di bawah menampilkan proses backup yang sudah selesai.

Recovery
Terkait opsi atau fitur Physical to Virtual, ternyata Nakivo baru bisa mendukung platform VMware.

Saat cek menu Recover dari backup job tadi, opsi full recovery dan beberapa opsi lain juga belum bisa digunakan (masih greyed out).

Pilih opsi Export Backups saja untuk pengujian kali ini. Nakivo akan mengubah hasil backup menjadi disk file seperti .vmdk.
- Pilih hasil backup yang akan diekspor.

- Pilih disk-nya juga

- Pilih lokasi ekspornya. Kali ini kita gunakan local storage yang berada di server Nakivo-nya. Sebelumnya, saya siapkan terlebih dahulu direktori khusus di partisi yang masih kosong. Format ekspornya adalah .vmdk. Pilih tombol Export untuk melanjutkan.

Gambar di bawah ini menampilkan proses ekspor sudah selesai.

Transfer Hasil Backup
Virtual disk dengan format .vmdk ini akan kita nyalakan di server Proxmox VE. Kita salin terlebih dahulu filenya ke server PVE.
scp /data/export/Ubuntu_Disk1_* root@192.168.9.21:/root/
Buat VM kosong di PVE sebagai “tempat” recovery-nya. Bisa via GUI atau via CLI seperti ini:
qm create 200 --name ubuntu-p2v --memory 2048 --cores 2 --net0 virtio,bridge=vmbr0 --ostype l26 --scsihw virtio-scsi-pci
Setelah VM kosongan dibuat, transfer file .vmdk-nya ke VM tersebut. Sebagai contoh, storage yang digunakan oleh VM baru ini bernama “Ceph-SSD”.
qm importdisk 200 'Ubuntu_Disk1_Wed--17-Jun-2026-at-3-53-06-(UTC-+00-00).vmdk' Ceph-SSD
Jangan lupa atur agar VM boot ke disk hasil migrasi tadi.
qm set 200 --scsi0 Ceph-SSD:vm-200-disk-0
qm set 200 --boot order=scsi0
Gambar di bawah menampilkan VM baru sudah muncul dari GUI.

Uji coba sekalian. Jangan lupa matikan server asalnya.

Gambar di bawah menampilkann VM berhasil dinyalakan dan berhasil masuk ke sistem (Ubuntu). Proses recovery physical to virtual (secara manual) sudah berhasil.

Penutup
Nakivo v11.2 memang belum mendukung pemulihan otomatis dari mesin fisik langsung ke Proxmox VE. Namun, fitur Export Backups memberikan jalur alternatif yang sangat ampuh untuk menembus keterbatasan tersebut.
Tulisan kali ini sampai di sini dulu ya. Sampai jumpa. Bye.



