Hai semuanya, apa kabar? Baru baru ini, Ubuntu merilis update LTS rutin, yaitu versu 26.04. Ubuntu 26 tersedia dalam beberapa varian, termasuk Server dan Desktop. Ubuntu Server juga banyak digunakan di lingkungan enterprise/production, apalagi rilis kali ini adalah versi LTS (Long Term Support).
“In Ubuntu, it designates a highly stable, enterprise-grade release that receives free, guaranteed security patches and critical bug fixes for 5 years“.
Pada tulisan kali ini, kita akan coba instal Ubuntu versi terbaru ini di Proxmox VE, mulai dari mendapatkan file instalasi, proses instalasi, hingga VM siap digunakan.
Persiapan File ISO
Landing page dari Ubuntu Server dapat diakses dari situs resmi Ubuntu di https://ubuntu.com/download/server . Ukuran filenya sekitar 3GB. Pilih tombol Download.

Apabila terkendala dalam proses download file-nya,, kita coba buka mirror-nya di launchpad.net/ubuntu/+cdmirrors dan cari bagian Indonesia.
Pilih salah satu mirror-nya, misalnya DomaiNesia dan pilih opsi download yang https.

Browse ke direktori ubuntu>iso-release>26.04. Kita akan download file ISO-nya langsung ke Proxmox VE, jadi kita salin saja link untuk file ubuntu-26.04-live-server-amd64.iso.

Setelah link-nya disalin, kita masuk ke dashboard dari Proxmox VE dan buka storage penyimpanan file ISO (misalnya di local storage), lalu pilih tombol Download from URL.

Pilih tombol Query URL lalu pilih tombol Download. Apabila proses download sudah selesai, akan menampilkan TASK OK.

Gambar di bawah ini menampilkan file ISO Ubuntu 26 sudah berhasil diunduh (di server Proxmox VE).

Membuat VM di Proxmox VE
Dari halaman dashboard Proxmox VE, pilih tombol Create VM (ada di top bar atau klik kanan pada server) untuk membuat VM baru.
Tahapan pembuatan VM terdiri dari beberapa langkah/tab:
- General: Masukkan ID dan beri nama VM.

- OS: Pilih opsi Use CD/DVD disc image file. Pilih storage tempat Anda menyimpan ISO dan pilih file
ubuntu-26.04-live-server-amd64.iso. Klik Next.

- System: Beri tanda centang pada opsi Qemu Agent. Fitur ini perlu diaktifkan agar host Proxmox VE bisa bertukar informasi penting (seperti IP asli dan status shutdown) dengan sistem operasi di dalam VM. Klik Next.

- Disks: Pada pengujian kali ini, kita akan membuat 4 buah disk (1x 32 GB untuk sistem operasi utama, dan 3x 40 GB untuk kebutuhan pengujian storage tambahan nanti).
- Tips Penting: Aktifkan opsi Discard. Fitur ini berfungsi untuk mengaktifkan fungsi TRIM virtual. Saat OS Ubuntu menghapus file di dalam VM, sistem akan otomatis mengembalikan ruang penyimpanan kosong tersebut ke SSD/NVMe fisik server . Klik Next.
- CPU: Atur konfigurasi sesuai kebutuhan beban kerja. Kita menggunakan 1 Socket dan 2 Cores. Untuk pilihan Type, biarkan pada opsi default yaitu x86-64-v2-AES.
- Pilihan tipe ini memberikan instruksi enkripsi perangkat keras (AES-NI) langsung ke dalam VM tanpa membebani CPU fisik, sekaligus menjaga kecocokan migrasi antar-node jika Anda menggunakan cluster Proxmox VE. Klik Next.
- Memory: Masukkan kapasitas RAM sebesar 8192 MiB (8 GB). Klik Next.

- Network: Biarkan pada pengaturan default, lalu klik Next.

- Confirm: Periksa kembali seluruh ringkasan konfigurasi, lalu klik Finish.

Proses Instalasi Ubuntu 26
Nyalakan VM yang sudah dibuat dan masuk ke menu Console dari VM.

- Language & Keyboard: Pilih bahasa English dan konfigurasi keyboard English (US) untuk mempermudah pengetikan perintah teks.


- Base Installation: Pilih opsi pertama yaitu Ubuntu Server (versi standar yang menyediakan paket perkakas server lengkap). Jangan centang opsi minimized atau third-party drivers untuk pengujian kali ini.

- Konfigurasi Jaringan (IP Statis): Secara default, Ubuntu akan mengambil IP otomatis dari DHCP. Untuk server produksi, kita perlu mengaturnya secara manual (statis).
- Proxy: Kosongkan bagian ini jika jaringannya tidak menggunakan proxy server. Pilih Done.

- Configure Ubuntu Archive Mirror: Pada tahap ini, installer Ubuntu otomatis akan mendeteksi lokasi geografis server Anda dan otomatis merekomendasikan alamat repositori lokal terdekat (misalnya
id.archive.ubuntu.com).
- Alamat ini berfungsi sebagai pusat unduhan paket aplikasi dan pembaruan keamanan di masa depan. Biarkan opsi default ini, lalu pilih Done.
- Setting Disk: Pilih opsi Use an entire disk. Pastikan kita pilih disk yang berukuran 32 GB yang sudah kita siapkan khusus untuk sistem operasi utama. Pilih Done dan konfirmasi Continue.


- Profile Configuration: Masukkan nama Anda, nama server, username, serta kata sandi yang kuat untuk hak akses masuk.

- Ubuntu Pro: Anda akan melihat penawaran untuk mengaktifkan Ubuntu Pro. Ubuntu Pro adalah layanan jaminan keamanan tingkat lanjut dari Canonical yang memberikan pembaruan keamanan gratis hingga jangka waktu 10 tahun (versi standar hanya 5 tahun) untuk ribuan paket software open-source tambahan. Layanan ini gratis untuk penggunaan personal/pribadi hingga maksimal 5 mesin. Pada pengujian kali ini, kita bisa memilih opsi Skip for now terlebih dahulu.

- SSH Configuration: Beri tanda centang pada opsi Install OpenSSH server agar Anda bisa melakukan akses remote pada server ini menggunakan terminal dari komputer lain nanti.

- Featured Server Snaps: Bagian ini menawarkan instalasi aplikasi instan (seperti MicroK8s, Nextcloud, atau Rocket.Chat). Lewati bagian ini dengan memilih Done langsung.

- Installation & Reboot: Tunggu proses pemasangan sistem operasi berjalan hingga selesai. Setelah muncul opsi Reboot Now, pilih opsi tersebut.

Post-Installation di Proxmox VE
Setelah proses reboot, pastikan untuk mencabut atau menonaktifkan file ISO. Dapat dilakukan dari menu Hardware> CD/DVD> Do not use any media.

Pastikan juga boot order mengarah ke disk yang diinstal Ubuntu. Menunya terletak di Options> Boot Order.

Testing Akhir
Gambar di bawah ini menampilkan console dari Ubuntu Server 26 yang berhasil diinstal (dan berhasil login juga).

Kita coba juga jalankan perintah sudo apt update, dan berhasil.
Kesimpulan
Itu dia cara instalasi Ubuntu Server di Proxmox VE. Garis besarnya mirip dengan instalasi OS pada umumnya. Siapkan file ISO-nya, lalu karena pengujian kali ini berbasis virtualisasi, jadi kita perlu menyiapkan VM dan resource-nya terlebih dahulu. Kemudian tahapan instalasi juga mirip dengan OS Linux lain pada umumnya. Namun, karena ini adalah OS server, jadi tampilannya hanya berupa teks saja.
Untuk tulisan kali ini sampai di sini dulu ya. Sampai jumpa.Bye.



