Saat instalasi Proxmox VE, kita bisa memilih jenis filesystem yang akan diterapkan. Beberapa opsi yang tersedia antara lain ada EXT4, XFS, dan ZFS. Masing-masing memiliki karakteristik tersendiri.
- EXT4. Umum digunakan pada Linux dan memiliki kompatibilitas yang luas. Umum digunakan untuk penggunaan harian.
- XFS. Cenderung lebih capable untuk menangani workload yang besar seperti pada production server.
- ZFS. Filesystem sekaligus volume manager yang memiliki fitur seperti snapshot, compression, checksum, dan software RAID.
Pada tulisan kali ini kita akan fokus ke ZFS.
Filesystem ZFS memiliki fitur yang cukup menarik, yaitu kemampuan mengelola beberapa disk layaknya RAID controller pada server. Pengelolaan ini dilakukan secara virtual, jadinya tidak memerlukan perangkat/hardware RAID controller sendiri. Ada beberapa opsi RAID yang tersedia melalui filesystem ini, contohnya (tidak semua):
- Stripe/RAID 0, tidak ada toleransi kegagalan (minimal disk 1).
- Mirror/RAID 1, minimal disk 2, toleransi kegagalan 1 disk per mirror.
- RAID10*, minimal disk 4, toleransi kegagalan bergantung juga pada disk yang gagal.
Salah satu opsi yang pernah aku coba adalah Mirror/RAID1. Konfigurasi ini menggunakan dua buah disk (atau lebih) untuk menyalin data yang sama. Minimal disk yang digunakan adalah sebanyak 2 buah. Misalnya kita memiliki dua buah disk sebesar ~1TB dan di-set RAID1, maka kedua disk akan menyimpan data yang sama. Namun apabila salah satu disk mengalami kegagalan, data masih ada pada disk satu lagi.
Namun, walaupun kapasitas totalnya 2x 1 TB = 2 TB, yang dapat digunakan hanyalah 1 TB (karena datanya di-mirror atau disalin sama ke disk yang dipilih). Apabila server atau infra yang kita tangani baru memiliki dua buah disk, maka opsi ini dapat dipertimbangkan untuk mekanisme redundansi storage.
Hal yang perlu diperhatikan lagi adalah penggunaan hardware RAID controller. Pada server kelas enterprise biasanya sudah dilengkapi hardware RAID controller. Perangkat ini memungkinkan penggabungan disk menjadi satu logical disk. Namun apabila kita ingin menggunakan ZFS, hindari penggunaan hardware RAID controller (biasanya, konfigurasi dari hardware controller dapat dinonaktifkan pada server).
Penggunaan hardware controller untuk ZFS tidak direkomendasikan (mungkin bahkan dilarang) karena ZFS memang dirancang untuk dapat mengelola storage secara langsung (misalnya untuk mengetahui kondisi dari tiap disk).
Beberapa kemampuan ZFS antara lain:
- Melakukan checksum untuk mendeteksi kerusakan data.
- Memeriksa integritas data.
- Mendeteksi masalah pada masing-masing perangkat penyimpanan.
- Melakukan self-healing apabila tersedia redundansi data yang sesuai.
- Mengelola proses resilvering ketika disk diganti.
Apabila hardware controller tetap aktif, maka ZFS hanya akan melihat disk yang sudah “digabungkan” menjadi logical disk, bukan masing-masing disk (individu). Akibatnya, ZFS tidak mendaatkan informasi yang akurat dan tidak dapat memiliki kendali penuh terhadap disk tersebut.
Oleh karena itu, apabila ingin menggunakan ZFS, konfigurasi yang lebih direkomendasikan adalah menggunakan HBA (Host Bus Adapter) atau mode IT Mode/JBOD agar setiap disk dapat diakses secara langsung oleh Proxmox VE.
Namun apabila kita tidak ingin memilih ZFS (misalnya pilih EXT4/XFS), penggunaan hardware controller tetap dapat digunakan untuk membuat disk dengan konfigurasi RAID.
Selain itu, penggunaan ZFS juga perlu memperhatikan beberapa aspek tambahan.
- Kebutuhan RAM. ZFS membutuhkan RAM untuk menjalankan berbagai mekanismenya, termasuk ARC (Adaptive Replacement Cache). Oleh karena itu, pastikan server memiliki kapasitas RAM yang memadai untuk kebutuhan virtualisasi sekaligus pengelolaan storage.
- Kapasitas storage. Perhatikan kapasitas efektif yang dapat digunakan setelah menentukan konfigurasi RAID. Misalnya, dua disk berkapasitas 1 TB dengan konfigurasi Mirror hanya akan menyediakan kapasitas sekitar 1 TB sebelum memperhitungkan kebutuhan metadata dan ruang yang digunakan sistem.
- Jenis disk. Gunakan disk yang sesuai dengan kebutuhan workload. Untuk lingkungan production, pertimbangkan penggunaan SSD atau HDD kelas enterprise yang memiliki ketahanan dan spesifikasi sesuai kebutuhan.
Tulisan kali ini sampai di sini dulu ya. Sampai jumpa. Bye.