AI Bubble Sudah “Pecah” di China – Apa Itu ?

Saat buka Threads, aku lihat beberapa post tentang AI Bubble yang sudah pecah di China. Sebenernya aku juga belum begitu paham apa maksudnya. Apakah AI yang dirasa sudah sangat canggih dan pasarnya jadi “jenuh” atau seperti apa.

Ternyata, maksud dari pecahnya AI Bubble ini adalah, semakin berkembangnya AI, banyak pihak yang memprediksi bahwa bisnis AI (atau yang berkaitan dengan AI) akan meroket dan untung besar di masa depan. Sehingga, saham perusahaan AI harganya bisa melonjak tinggi. Hal ini bisa jadi berkaitan dengan… orang yang membeli “harapan” untuk masa depan yang cuan – bukan berdasarkan profit yang ada saat ini. Selama “harapan” tersebut masih ada, harga sahamnya bisa terus naik.

Namun, begitu ada keraguan yang mulai muncul (seperti performa atau profit dari perusahaan AI tersebut mulai turun), ada perubahan regulasi atau peraturan atau perubahan lain, maka Bubble atau “ekosistem” dari perusahaan yang berkaitan dengan AI ini “meletus” atau “pecah”, dan harga sahamnya turun drastis.

Di China, perusahaan-perusahaan yang dimaksud adalah perusahaan AI dan semikonduktor. Dalam kurang dari empat bulan, indeks STAR50, yang berisi perusahaan-perusahaan AI dan chip terbesar di China, anjlok sekitar 40%. Nilai pasar yang hilang mencapai US$480 miliar, atau sekitar Rp8.400 triliun . Indeks yang lebih luas, CSI300, juga turun sekitar 20% dari puncaknya di bulan Juni dan masuk wilayah bear market (pasar turun).

Pecahnya Bubble ini bisa jadi disebabkan oleh beberapa faktor:

  • Harga saham yang sudah terlalu mahal. Misalnya, saham A di China harganya jauh lebih tinggi daripada saham A yang ditawarkan di Amerika. Artinya, orang membayar beberapa kali lebih mahal untuk setiap dolar keuntungan.
  • Kekhawatiran akan permintaan. “Kalau semua pihak bikin datacenter AI, siapa yang bakal beli?”. Ketika ekspektasi untung belum juga terwujud, harga mulai goyah.
  • Pasar yang terlalu panas. Seorang manajer dana di Beijing menggambarkan pasar saham China berubah menjadi “kegilaan spekulasi” sebelum akhirnya bubble itu pecah.

Pecahnya AI Bubble bukan berarti AI-nya mati atau sudah tidak digunakan, namun yang “pecah” adalah harga sahamnya. Teknologi AI tetap berkembang.

Opini pribadiku: dengan pecahnya AI Bubble dan tadi aku sempat menyebutkan tentang perusahaan semikonduktor, apakah seiring waktu harga saham perusahaan semikonduktor/chip/komponen akan normal kembali? Apakah harga komponen (seperti RAM, disk, dll) akan berangsur-angsur turun dan normal? Karena itu salah satu yang jadi concern dari diriku hehe. Aku liat sekarang spesifikasi laptop cenderung sama namun harganya lumayan naik parah. Semoga saja harga komponen komputer bisa “normal/wajar kembali”.

By Zaidan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *