
Proxmox VE mendukung berbagai jenis penyimpanan. Beberapa contoh yang umum digunakan adalah Ceph dan ZFS. Keduanya dapat difungsikan seperti shared storage, di mana data dari VM dapat diakses oleh server lain yang ada di cluster, sehingga baik Ceph maupun ZFS dapat digunakan untuk fitur advanced di Proxmox VE seperti live migration dan high availability.
Namun terkadang admin memiliki kebingungan dalam memilih jenis penyimpanan apa yang lebih cocok untuk diterapkan pada infrastruktur mereka. Pada tulisan kali ini, mari kita ulas secara singkat kelebihan dan kekurangan dari Ceph dan ZFS.
Ceph: “Monster” yang Haus Performa
Ceph bisa dibilang sebuah “impian” dari sysadmin apabila mereka memiliki hardware yang mumpuni. Ceph sistemnya adalah distributed storage yang dapat diimplementasikan pada data center skala besar.
Kelebihan Ceph
- Live Shared Storage: Data yang ada didistribusikan/disebarkan ke seluruh node (yang terpilih), sehingga node dapat melihat atau mengakses data yang sama secara real-time.
- Instant Live Migration: Karena datanya sudah ada dan dapat diakses dari node lain dalam cluster, apabila kita melakukan live migration pada VM, maka yang “pindah” hanya data kecil seperti RAM saja.
- Support High Availability: Apabila satu node mati, VM dapat up dengan lebih cepat di node lain (apabila sudah di-setup sebelumnya).
Risiko
- Konfigurasi dan Maintenance Relatif Lebih Rumit: Butuh ketelitian lebih dalam konfigurasinya. Apabila belum terlalu ahli dan terjadi kendala, troubleshooting-nya bisa lebih rumit.
- Butuh Resource yang Besar: Jumlah minimal node untuk implementasi Ceph adalah sebanyak 3 node. Dan apabila ingin lebih “tenang”, disarankan node-nya lebih banyak dan berjumlah ganjil (misalnya sebanyak 5 buah). Jaringan yang digunakan, setidaknya 10 Gbps. Disk-nya disarankan menggunakan SSD enterprise-grade.
ZFS Replication: Alternatif yang Lebih Sederhana
Apabila diibaratkan, Ceph seperti mobil balap yang bertenaga, dan ZFS ibarat mobil keluarga yang reliable. Sistem atau cara kerja dari ZFS adalah menyebarkan/mengirimkan cuplikan data (snapshot) antar node dalam interval waktu tertentu.
Kelebihan ZFS
- Simpel: Tidak memerlukan jaringan super cepat seperti 10G. Jaringan 1G/Gigabit biasa juga sudah cukup.
- Independent Storage: Tiap node punya datanya sendiri. Apabila salah satu node datanya corrupt, data di node lain masih aman.
- Cocok untuk VM Skala Kecil: Sinkronisasi data untuk VM kecil relatif cepat, bisa dalam hitungan detik.
Risiko
- Delay: Karena mekanisme sinkronisasi data asynchronous yang berbeda dari Ceph (ZFS menggunakan skema replikasi snapshot berdasarkan waktu), ada risiko kehilangan data (data yang belum sempat terkirim/direplikasi) saat node mati (mengambil data yang terakhir direplikasi).
- Migrasi Butuh Waktu Lebih: Saat kita melakukan live migration, ada proses sinkronisasi tambahan untuk memastikan data VM yang dimigrasikan benar-benar sesuai.
Kesimpulan: Mana yang Dipilih?
Pilih Ceph apabila kita punya server minimal berjumlah 3 buah (direkomendasikan berjumlah ganjil), memiliki jaringan setidaknya 10Gbps, dan memang sistem yang ditangani membutuhkan “zero/minimal downtime“.
Pilih ZFS apabila kita tidak memiliki node banyak, ingin sistem yang lebih mudah untuk di-maintain dan dikonfigurasi, dan sistem yang tidak terlalu membutuhkan high availability yang ketat.
Apabila untuk keperluan testing/home lab, tidak perlu maksa pakai teknologi super canggih seperti Ceph. Kadang sistem yang sederhana lebih bikin kita “tenang” dalam implementasinya.
Untuk tulisan kali ini sampai di sini dulu ya. Sampai jumpa. Bye.