Camping Rawagede – pulang (part terakhir)

-lanjutan dari tulisan sebelumnya-

Menjelang jam 9 pagi, kami siap-siap untuk pulang. Mandi, beberes tenda, dan memastikan semua perlengkapan milik pengelola Rawagede lengkap. Setelah siap, kami kunci tenda dan mengembalikannya ke pengelola Rawagede. Saat kami pulang, juga datang rombongan pemotor ke Rawagede. Sepertinya mereka hanya liburan/wisata saja tanpa menginap.

Jalan pulang dari Rawagede, kami melalui jalan yang sama dengan jalan saat berangkat. Kami juga sempat berhenti sejenak untuk berfoto di pinggir jalan.

Akhirnya kami tiba di jalan “utama”, sebut saja daerah Tanjakan Dua Ribu. Di jalan, kami juga searah dengan truk (sepertinya bermuatan). Medan jalan saat pulang bedanya adalah kalau saat pulang, lebih banyak turunannya. Turunan yang cukup curam.

Saya gak berani langsung ambil kanan/menyalip truk tersebut. Karena kurang memungkinkan, jalanannya relatif sempit untuk menyalip dan juga kadang ada kendaraan lain yang berpapasan. Rem dari motor saya juga ternyata kurang optimal untuk pengereman di medan seperti ini. Tekan rem terus (kanan) berpotensi blong (karena overheat) dan rem kiri kurang pakem dibanding rem kanan. Jadi saya lebih menjaga kecepatan agar motor tidak melaju terlalu cepat (dan terlalu dekat dengan truk di depan).

Lain dengan Fahmi. Karena motornya baru, jadi pengeremannya bisa dibilang masih prima. Dalam suatu kondisi, Fahmi dapat kesempatan menyalip dan melaju meninggalkan saya.

Akhirnya setelah mengekor truk cukup lama (gak lama-lama banget sih sebenarnya) akhirnya saya dapat momen untuk menyalip truk tersebut. Saya kira Fahmi gak terlalu jauh. Namun setelah berkendara beberapa kilometer, saya tidak kunjung melihat Fahmi di depan (atau mungkin minggir).

Ternyata Fahmi duluan dan menunggu di Indomaret tempat kami berhenti di hari sebelumnya. Dia duluan karena dia pikir saya juga bisa menyalip truk tersebut dan mengikuti Fahmi.

Setelah beristirahat beberapa saat, kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Tidak banyak yang saya perhatikan saat jalur pulang karena memang sudah capek hehehe.

Lanjut saja, sudah di daerah Jonggol-Cileungsi, Aril menyarankan untuk istirahat di Kuburan Cipenjo (karena ada lapak). Kami pun beristirahat di Cipenjo sambil ngebaso. Saat di Cipenjo, telinga saya masih merasa kurang nyaman dan agak budeg. Mungkin karena perbedaan ketinggian dari Rawagede dan telinga saya sempat kemasukan air saat berenang di hari sebelumnya (dan ini berlangsung untuk beberapa hari).

Beres ngebaso, bertepatan dengan waktu Dzhuhur. Di dekat Kuburan Cipenjo tepatnya di dekat salah  satu gerbang Metland Cileungsi ada masjid komplek. Kami pun sholat terlebih dahulu. Beres sholat, kami mampir dulu ke Perumahan Relife CIleungsi (sekadar mampir aja) lalu keluar lagi dan pulang ke Cibitung. Sampai di Cibitung sekitar pukul setengah dua siang.

Itu saja tulisan kali ini (yang ber-bagian-bagian). Sampai jumpa. Bye.

Leave a Comment