Donor Darah – 2025

Ramadhan tahun ini, masjid dekat rumah saya kembali berkolaborasi dengan PMI Kabupaten Bekasi untuk mengadakan acara Donor Darah. Seingat saya acara ini rutin diselenggarakan, bahkan sejak saya masih sekolah. Tapi dulu (pas masih sekolah) saya masih belum berani untuk donor darah.

Prosedurnya cukup mudah. H-1 acara donor darah, panitia (DKM) membagikan formulir bagi jamaah masjid yang ingin ikut. Diisi dengan identitas kita dan berbagai pertanyaan terkait kesehatan dan riwayat donor darah sebelumnya.

Saat hari H, form tersebut dibawa dan juga kalau pernah donor darah sebelumnya bawa juga kartu donor darah. Kalau baru kali ini donor darah, sepertinya juga perlu bawa KTP untuk registrasinya.

Antrian donor darah dibuka sekitar jam 20:30 setelah Salat Tarwih. Saya lihat cukup banyak jamaah yang ingin mendaftar/ikut acara donor darah ini baik pria maupun wanita.

Registrasi, kemudian cek kesehatan singkat oleh petugas (cek tensi, tanya berat badan, tanya beberapa pertanyaan seperti tidur cukup atau tidak, konsumsi obat atau tidak, terakhir makan kapan, dll). Selain itu, kita juga diambil darahnya sedikit di jari (seperti kalau cek golongan darah). Gak begitu sakit.  Setelah itu diminta menunggu hingga dipanggil giliran donor oleh petugas lainnya.

Giliran donor darah tiba. Petugas mempersiapkan barang-barang seperti kantong darah, labeling, dan lainnya. Kali ini diambil darah dari tangan kanan. Saat pertama kali donor darah (2023 sepertinya), saya jauh lebih tegang. Sekarang juga sebenarnya masih agak tegang sih. Apalagi kalau teringat suntik spinal (bius setengah badan ke bawah untuk operasi) wah ngeri. Tapi saya lebih pilih suntik donor darah sih daripada suntik spinal.

Sebelum ambil darah, tangan saya diikat terlebih dahulu dengan torniket. Saya cari di Google sih agar lebih mudah saat mencari pembuluh darah dan memasukkan jarumnya. Ini yang paling tegang menurut saya. Karena saya sudah tahu saat ditusuk jarumnya itu cukup sakit (lebih sakit daripada tusuk jarum saat pasang infus).

Saya diminta untuk tarik nafas dan tangan dikepalkan saat jarum ditusukkan. Nyess. Lumayan sakit. Darah pun mengalir ke kantong darah. Dari formulir yang ada sih sepertinya darah yang diambil sekitar 350cc (untuk giliran saya). Sakitnya saat jarum menusuk saja, saat darah mengalir tidak sakit (mungkin ada sedikit sensasi “aneh” di tangan).

image host

Prosesi donor darah berlangsung selama sekitar sepuluh menit. Setelah kantong darah penuh, selang di-“pause” terlebih dahulu. Sambil petugas mempersiapkan barang lain. Kali ini, terasa “nyut-nyut” mungkin karena selang masih ada namun ujungnya disumbat. Sebelum lepas jarum, sebagian kecil darah dimasukkan  ke dalam botol (vial). Mungkin untuk sampel dan pengecekan. Setelah itu adalah prosesi pencabutan jarum. Cukup sakit, tapi masih lebih sakit saat jarum masuk. Lalu bekas lubang jarum di tangan ditutup dengan plester.

Alhamdulillah proses donor darah berlangsung lancar. Sudah selesai, dipersilahkan untuk pindah tempat untuk giliran peserta donor selanjutnya. Kemudian proses administrasi (dan tanya-tanya seperti “pusing tidak?”) dan pulang.

image host

Itu dulu sharing saya kali ini. Sampai jumpa. Bye.

Leave a Comment